Halaman

Translate

KEPALANG MERAHAN (DASAR)

KEPALANG MERAHAN (DASAR) A. LATAR BELAKANG SEJARAH PALANG MERAH DAN BULAN SABIT MERAH TAHUN 1859 S0LFERINO - JOHN HENDRY DUNANT TAHUN 1863 Komite Internasional untuk bantuan tentara yang luka (Komite Lima) Internasional Of The Red Cross (ICRC) TAHUN 1864 KONVENSI JENEVA TAHUN 1867 Konferensi Palang Merah Internasional ( 9 Pemerintah dari 16 Perhimpunan Nasional dan ICRC) TAHUN 1899 Penyesuaian terhadap cara perang Angkatan Laut sesuai dengan Prinsip - Prinsip Konvensi Jenewa tahun 1864 (Konvensi Hague III) TAHUN 1806 Revisi dan Pengembangan Konvensi Jenewa tahun 1864 TAHUN 1807 Penyesuaian terhadap cara perang Angkatan bersenjata sesuai dengan Prinsip - Prinsip Konvensi Jenewa tahun 1806 (Konvensi Hague X) TAHUN 1919 LIGA PERHIMPUNAN PALANG MERAH DAN BULAN SABIT NASIONAL TAHUN 1928 Status Palang Merah Internasional TAHUN 1929 Konvensi - Konvensi Jenewa Revisi dan pengembangan Konvensi Jenewa tahun 1906 berkaitan dengan Pengesahan Konvensi Jenewa berkaitan dengan perlakuan terhadap tawanan perang TAHUN 1949 KONVENSI - KONVENSI JENEWA 1. Perbaikan kondisi bagi Angkatan Perang yang terluka dan sakit di medan perang ( revisi dan pengembangan konvensi Jenewa tahun 1929) KONVENSI I 2. Perbaikan kondisi Angkatan Perang yang terluka dan sakit di Laut dan Perahu karam ( revisi dan pengembangan konvensi Hague X tahun 1907) KONVENSI II 3. Berkaitan dengan perlakuan terhadap tawanan perang (revisi dan pengembangan konvensi Jenewa tahun 1929) KONVENSI III 4. Berkaitan dengan perlindungan terhadap penduduk sipil pada waktu perang KONVENSI IV TAHUN 1952 Revisi Status Palang Merah Internasional TAHUN 1967 Proklamasi Prinsip - Prinsip Dasar Palang Merah (Kemanusiaan, Kesamaan, Kenetralan, Kemandirian, Kesukarelaan, Kesatuan, Kesemestaan) TAHUN 1977 PROTOKOL TAMBAHAN KONVENSI JENEWA 1949 Dalam keempat Konvensi tersebut telah dicantumkan mengenai pertolongan, namun dalam pengembangannya dilengkapi dengan dua buah ketentuan tambahan yang isinya lebih luas daripada konvensi Jenewa tahun 1949 yang disebut dengan dua Protokol Tambahan yaitu : PROTOKOL I Pertolongan diterapkan pada pertikaian bersenjata Internasional PROTOKOL II Pertolongan yang diterapkan pada pertikaian bersenjata yang tidak Internasional Kedua Protokol Tambahan ini disahkan dalam satu Konvensi diplomat pada tanggal 8 Juni 1977 yang diprakarsai oleh Komite Internasional Palang Merah. B. PALANG MERAH Palang Merah secara umum dikenal sejak tahun 1863 sebagai Pergerakan Internasional dari Palang Merah dan Bulan Sabit Merah yang merupakan sebuah Organisasi Internasional yang bersifat Kemanusiaan dan berdiri sendiri di banyak negara di dunia. Dengan pelayanan sukarela untuk menolong sesama, Palang Merah berkembang untuk melayani korban perang dan melaksanakan Konvensi Geneva. Kegiatan Palang Merah ini meluas termasuk pelayananmasa damai seperti mendirikan bank darah, memberikan pendidikan pertolongan peratama dan perlindungan di air dan di darat, serta merawat korban bencana seperti banjir, longsor,kebakaran dll. selain itu Palang Merah juga menolong para tawanan perang Jean Henry Dunant dilahirkan pada tanggal 8 Mei 1828 di Jenewa Swiss, Ayahnya bernama Jean Jacques Dunant dan Ibunya bernama Antoinette Colladon, Tahun 1859 Henry Dunant pergi ke Italia menuju Solferino, di Solferino sedang terjadi perang antar Perancis dan Sardinia melawan tentara Austria. Dari pengalaman tersebut ia mengarang buku dengan judul “ Un Souvenir De Solferino” ( Kenangan di Solferino ) Dan buku tersebut menarik perhatian dunia dan beberapa orang terkenal yang akhirnya membentuk Panitia 5 yang terdiri dari : 1. Jendral Dufour 2. Mr. Maunior 3. Dr. Appia 4. Gustave Moyneier 5. Jean Henry Dunant Mereka membentuk lembaga sosial yang bernama PALANG MERAH tahun 1899, Henry Dunant mendapat perhargaan dan tahun 1901 mendapat hadiah Nobel di bidang Kemanusiaan dan Perdamaian. Panitia lima tersebut merintis terbentuknya Palang Merah Lambang Palang Merah di atas dasar putih. Lambang tersebut berarti Perlindungan bagi para petugas, penolong di medan perang. Panitia lima menjadi Komite Internasional Palang Merah (KIPM) yang dalam bahasa Inggrisnya yaitu International Commitee Of The Red Drocc (ICRC). C. FLORENCE NIGHTINGALE Florence Nightingale dilahirkan di Amostad Inggris pada tanggal 12 Mei 1820 ia putri bangsawan yang berkecukupan, tapi itu tidak memberikan kepuasan baginya. Akhirnya ia memilih jalan penghidupan yang menpunyai tujuan tapi harus dikejar dengan segala tenaga. Ia ingin menolong yang miskin, orang-orang sakit dan menderita sehingga ia ingin menjadi perawat, dengan segala rintangan dan hambatan ia lalui dan rintangan tersebut menjadi dorongan yang kuat baginya. Florence Nightingale menjadi perawat karena bantuan Elisabeth Fry dan ia ingin pergi ke paris depan perang Krim ternyata ia mendapat surat untuk dikirim ke Scutari untuk merawat orang - orang sakit types, colera. Sisentri yang mengakibatkan banyak kematian, lebih dari korban perang. Ia mendapat julukan Putri yang membawa Lampu (The Lady With The Lamp), karena pada waktu malam dengan membawa sebuah lampu ia mengunjungi yang sakit dan menghibur mereka yang terjaga tidurnya. Setelah dari Scutari ia pergi ke Krim dan ia disana sakit dengan sebutan Crimean Fever (deman Krim). Dan setelah sembuh ia kembali ke Scutari untuk bekerja. Setelah pulang ia mendirikan sekolah perawat yang dicita - citakannya yang disebut “ Nightingale Found“ tahun 1888 ia mendapat anugrah “ The Royal Red Cross “ dan tahun 1907 mendapat ‘ Ordre Of Mert “ ia meninggal pada tanggal 3 Agustus 1910 di Inggris D. ORGANISASI PALANG MERAH INTERNASIONAL 1. KIPM/ICRC. Komite Internasional Palang Merah = Intermational Commite Of The Red Crocc, merupakan perkembangan dari panitia lima/komite lima. Didirikan pada tahun 1863 sebagai lembaga netral pelindung Prinsip _ Prinsip Palang Merah. KIPM juga sebagai penggerak Palang Merah dan peleta dasar konvensi Genewa, KIPM berkedudukan di Jenewa - Swiss dan beranggotakan 25 orang warga Negara Swiss. 2. LIGA Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Liga adalah gabungan Internasional Palang Merah yang menangani masalah kesehatan, mencegah penyakit dan mengurangi penderitaan manusia. Liga didirikan pada tanggal 5 Mei 1919 dengan diadakannya Konferensi Kesehatan Internasional di Cammer Pancis dan berdirinya Liga diprakarsai oleh seorang bankir Amerika bernama Mr.Henry P. Davidson. Motto Liga Inter Arma Caritas “ ( Bantuan diantara pertikaian) Per- Humanitatem Ad Pacem ( Perdamaian Melalui Kemanusiaan ) Palang Merah Indonesia diterima sebagai anggota LIGA yang ke 68 pada tanggal 16 Oktober 1950 3. Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Nasional ( PPM dan BSMN ) adalah perhimpunan Nasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah yang diakui oleh ICRC dan Liga sesuai dengan ketentuan yang berlaku 4. Konfenrensi Internasional Palang Merah, KIPM adalah pertemuan tertinggi yang biasanya diselenggarakan 4 tahun sekali terdiri dari delegasi - delegasi Palang Merah Internasional dan Negara - Negara yang ikut menandatangani. E. SEJARAH PALANG MERAH REMAJA Pada Perang Dunia I di Australia yang melatar belakangi terbentuknya Palang Merah Remaja (PMR) yang bernama “ The Young Red Cross “ yang melibatkan anak - anak sekolah untuk membantu korban perang. Palang Merah Indonesia membentuk Palang Merah Remaja pada tanggal 1 Maret 1950 yang dipimpin oleh Nn. Siti Dasimah dan Nn. Paramita Abdurachman. TUJUAN PALANG MERAH REMAJA 1. Membangun manusia seutuhnya 2. Mendidik dan melatih generasi muda dalam kegiatan positif 3. Menumbuhkan minat para remaja di bidang kemanusiaan dan sosial KEGIATAN PALANG MERAH REMAJA 1. Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan 2. Perawatan Keluarga 3. Dapur Umum 4. Bongkar Pasang Tenda 5. Tekhnik Hidup di Alam Bebas 6. Jumpa Bhakti Gembira (Jumbara) 7. Kemping, Heking dan Cross Country 8. Pengenalan obat - obatan 9. Pembinaan fisik dan mental 10. Keterampilan organisasi/kepemimpinan TRI BHAKTI PALANG MERAH REMAJA 1. Berbhakti kepada masyarakat 2. Mempertinggi mutu keterampilan dan memelihara kebersihan dan kesehatan 3. Mempererat persahabatan Nasional dan Internasional TUGAS/KEGIATAN KHUSUS YANG SESUAI DENGAN KEMAMPUAN 1. Berbhakti terhadap masyarakat dari lingkungan rumah tangga sampai dengan lingkungan masyarakat 2. Kebersihan, kesehatan dan kelestarian lingkungan hidung dan gigi 3. Persahabatan Nasional dan Internasional antar anggota Palang Merah/masyarakat ( di dalan / di luar negeri )

DAPUR UMUM LAPANGAN PMI

DAPUR UMUM LAPANGAN PMI Penyelenggaraan Dapur umum untuk melayani kebutuhan makan para penderita atau korban bencana adalah bukan monopoli organisasi PMI. Penyelenggaraan Dapur Umum tersebut dapat diselenggarakan oleh siapa saja yang dating pertama dan dapat menyelenggarakannya. Berdasarkan pengalaman selain PMI adalah TNI, Karang taruna/SATGASOS, Perangkat Pemda tingkat bawah dan lain-lain. Penyelenggaraan dapu umum yang diselenggarakan oleh PMI menjadi tanggung jawab penuh pengurus cabang PMI yang dalampelaksanaannya dilakukkan oleh regu yang ditugaskan oleh pengurus cabang, regu disesuaikan dengan kebutuhan dan jumlah korban yang harus dilayani. Pengertian Dapur lapangan yang diselenggarakan untuk menyediakan/menyiapkan makanan yang sederhana dan layak serta higenis juga cukup bergizi dan dapat didistribusikan secara cepat. Penyelenggaraan dapur umum yang diselenggarakan PMI Cab menjadi tanggung jawab penuh pengurus PMI Cab. Yang dalam pelaksanaannya dilakukan oleh suatu tim yang ditunjuk oleh pengurus cabang, tim ini disesuaikan dengan kebutuhan dan jumlah korban. Dalam satu regu dapur umum terdiri dari:  Seorang ketua regu  Seorang wakil ketua regu  Seorang penanggung jawab tata usaha  Seorang penanggung jawab peralatan dan perlengkapan  Seorang penanggung jawab memasak  Seorang penanggung jawab distribusi  Beberapa tenaga yang membantu terdiri dari unsur masyarakat di daerah bencana dan sekitarnya Pembagian tugas 1. Ketua regu a. Mengatur pembagian tugas anggota, mengawasi, membimbing dan bertanggungjawab atas kelancaran tugas pelaksanaan dapur umum. b. Bertanggung jawaab secaara langsung kepada ketua tim penyelenggara dapur umum yang ditunjuk oleh pengurus cabang atau melalui ketua kelompok apabila ada. 2. Wakil ketua regu a. Mewakili ketua regu bila berhalangan b. Membantu kelancaran ketua regu (tugasnya) c. Bertanggung jawab atas pelayanan makanan dan memelihara ketertiban serta kebersihan lingkungan wilayah kerjanya 3. Petugas tata usaha Menyelenggarakan tata usaha dapur umum dengan baik meliputi : a. Pembuatan daftar nama para korban yang ada dalam wilayah kerjanya lengkap dengan tanggal lahir, jenis kelamin, pekerjaan dan alamat rumah. b. Pendataan barang dan keperluan dapur baik yang masuk maupun yang keluar c. Pertanggungan jawab keuangan d. Pembuatan/penyusunan laporan 4. Petugas peralatan atau perlengkapan a. Menyiapkan dan melengkapi peralatan dan perlengkapan dapur b. Mengatur penyimpanan logistik bahan-bahan kebutuhan dan peralatan serta kelengkapan dapur c. Membuat daftar infentaris peralatan dan perlengkapan d. Bertanggung jawab atas penerimaan atau pengeluaran logistik bahan pangan 5. Petugas memasak a. Menentukan jumlah penyediaan makanan yang harus dimasak. b. Memelihara ketetapan waktu memasak dan makan c. Dengan bantuan tenaga lokal (pembantu umum), menentukan menu makanan setiap harinya dan memelihara citra rasa sedemikian rupa sesuai dengan selera yang dibutuhkan para korban 6. Petugas pendistribusian Melaksanakan pembagian makanan sesuai dengan jumlah yang telah ditentukan dengan cara yang baik dan tertib. 7. Pembantu umum Membantu pelaksanaan berjalannya dapur umum. Misalnya : - Membantu mengambilkan air dari mata air - Membantu memompa kompor, dll Tenaga Dapur Umum 1. Anggota KSR sebagai tenaga inti dibantu TSR dan PMR. 2. Para korban, baik pria maupun wanita yang memenuhi syarat untuk membantu dan bersedia dengan sukarela. 3. Bila perlu bekerja sama dengan organisasi sosial lainnya Lokasi Dapur Umum 2. Harus dekat dengan posko dan mudah dijangkau oleh korban 3. Higenis lingkungan cukup memadai 4. Aman dari bencana susulan 5. Dekat dengan transportasi umum 6. Dekat dengan sumber air Pendistribusian 1. Menggunakan kartu distribusi 2. Dilakukan sehari-hari, untuk makan pagi dilakukan pukul 9-10 dan makan malam dilakukan pada pukul 4-5 sore 3. Pengambilan jatah dilakukan oleh kepala keluarga/wakil sesuai dengan kartu distribusi 4. makanan harus siap 15 menit sebelum waktu pendistribusian 5. Petugas sudah siap dengan perlengkapan administrasi (daftar absensi korban, jumlah yang akan diberi, dll) 6. penambahan jiwa dari para korban harus diberitahukan kepada petugas, sehari sebelum pelaksanaan pendistribusian. Contoh kartu distribusi KARTU DISTRIBUSI Nomor dapur : …………………………………………. Nomor kode DU : …………………………………………. Nama kepala keluarga : …………………………………………. Jumlah jiwa : …………………………………………. Alamat : …………………………………………. Tanggal Pagi Siang/malam Keterangan Contoh rekapitulasi distribusi REKAPITULASI DISTRIBUSI Alamat/lokasi/pos : …………………………………………. Nomor Dapur : …………………………………………. Tanggal : …………………………………………. No Nama KK Jumlah Jiwa Makan Pagi/Siang Makan Sore/Malam Keterangan D A B * * * Jumlah Catatan : D = Dewasa Petugas Distribusi A = Anak-anak B = Bayi ………………….. Peralatan dan Perlengkapan 1. Peralatan memasak a. 2 buah langseng ukuran 100 liter b. 1 buah drum air ukuran 100 liter c. 2 buah panci ukuran 50 cm d. 2 buah wajan no. 48 e. 2 buah serok penggorengan besar f. 2 buah susukan wajan g. 3 buah sendok takaran h. 2 buah sendok sayur i. besar 2. Peralatan penunjang a. 2 buah ember plastik beserta tutup b. 2 buah ember plastik untuk mengambil air c. 2 buah bakul nasi besar d. 2 buah cobek besar e. 2 buah pisau rajang f. 2 buah pisau pengiris g. 1 buah drum besar untuk menyimpan air h. 2 buah talenan daging i. 1 buah gayung air j. 2 buah ayakan bambu k. 2 meter slang plastik l. 2 buah corong minyak 3. Kompor gas Satu unit kompor dengan tangki berkapasitas 20 liter 3 kepala/semawar dan sebuah pompa atau 2 unit kompor dengan tangki ukuran 15 liter 2 kepala semawar dan sebuah pompa kompor. Jika keadaan darurat dapat juga mempergunakan tungku dari batu bata dengan bahan kayu bakar atau menggunakan kompor minyak tanah

PERTOLONGAN PERTAMA

PERTOLONGAN PERTAMA I. PENGERTIAN PERTOLONGAN PERTAMA. Pemberian pertolongan segera kepada penderita sakit atau korban kecelakaan yang memerlukan penanganan medis dasar untuk mencegahan cacat atau mati. II. TUJUAN PERTOLONGAN PERTAMA. 1. Menyelematkan Jiwa Penderita 2. Mencegah Cacad 3. Memberikan rasa nyaman dan menunjang proses penyembuhan III. PELAKU PERTOLONGAN PERTAMA. Pelaku pertolongan pertama adalah penolong yang pertama kali tiba di tempat kejadian ( TKP ) yang memiliki kemampuan penanganan kasus gawat darurat dan terlatih untuk memberikan pertolongan pertama. IV. KEWAJIBAN PELAKU PERTOLONGAN PERTAMA. 1. Menjaga keselamatan diri, anggota tim, penderita dan orang sekitarnya 2. Menjangkau penderita dalam khasus kecelakaan atau musibah kemungkinan pelaku harus memindahkan penderita lain untuk dapat menjangkau penderita yang lebih parah 3. Dapat mengenali dan mengatasi masalah masalah yang mengancam nyawa 4. Meminta bantuan/rujukan 5. Memberikan pertolongan dengan cepat dan tepat 6. Membantu pelaku lainnya 7. Ikut menjaga kerahasiaan medis penderita 8. Berkomunikasi dengan petugas lainnya yang terlibat 9. Mempersiapkan penderita untuk ditransportasi V. KUALIFIKASI PELAKU PERTOLONGAN PERTAMA 1. Jujur dan bertanggung jawab 2. Berlaku profesional 3. Kematangan emosi VI. ALAT PELINDUNG DIRI (APD). 1. Sarung Tangan Lateks 2. Kacamata Pelindung 3. Baju Pelindung 4. Masker Penolong 5. Masker Resusitasi 6. H e l m VII. PERALATAN PERTOLONGAN PERTAMA. 1. Penutup Luka, misalnya Kasa Steril 2. Pembalut Luka, misalnya Pembalut Segitiga/Mitella 3. Cairan Pembersih Luka, misalnya Boorwater, Rivanol dan Lodinepovidone 4. Peralatan Stabilisasi Korban, misalnya : a. Bidai Leher b. Bidai Alat Gerak (Bidai Kayu) 5. Mitella 6. Plester 7. Gunting 8. Pingset 9. Kapas 10. Senter 11. Selimut 12. Kartu Penderita 13. Alat Tulis 14. Oksigen (Bila Perlu) 15. Tensimeter dan Stetoskop (Bila Perlu) 16. Alat Angkut, misalnya tandu VIII. LANGKAH - LANGKAH PENILAIAN DINI. I. Kesan Umum : Tentukan terlebih dahulu penderita adalah kasus trauma atau kasus medis. A. Kasus Trauma adalah kasus yang biasanya disebabkan oleh suatu yang mempunyai tanda - tanda yang jelas terlihat atau teraba, misalnya : 1. Kasus Perdarahan 2. Kasus Patah Tulang 3. Kasus Penurunan Kesadaran .C. Kasus Medis adalah kasus yang diderita seseorang tanpa adariwayat, kasus ini penolong harus lebih berupaya mencari gangguannya, misalnya : 1. Sesak Napas 2. Nyeri Dada dll II. Periksa Respon : Respon yang diberikan penderita merupakan gambaran sederhana dan cepat mengenai berat ringannya gangguan yang terjadi dalam otak. Untuk menentukan tingkat respon seorang penderita berdasarkan rangsangan yang diberikan penolong, dikenal ada 4 tingkat yaitu AWAS, SUARA, NYERI, TIDAK respon (ASNT). A = AWAS Penderita sadar dan mengenali keberadaan dan lingkungan S = SUARA Penderita hanya menjawab/beraksi bila dipanggil atau mendengar suara. N = NYERI Pnderita hanya beraksi terhadap rangsangan nyeri yang diberikan oleh penolong, misalnya dicubit T = TIDAK Respon Penderita tidak bereaksi terhadap rangsangan apapun yang diberikan oleh penolong KERACUNAN GEJALA DAN TANDA KERACUNAN MELALUI PERNAFASAN. • Nafas sasak atau pendek • Batuk-batuk disertai sakit kepala • Kulit berwarna kebiruan • Nafas berbau TINDAKAN PERTOLONGAN PERTAMA. • Pindahan korban ke udara segar • Beri nafas buatan atau pijat jantung bila perlu • Jika korban bernafas, jaga agar sirkulasi udara lancar GEJALA KERACUNAN MELALUI MULUT ATAU ALAT PENCERNAAN. • Mual disertai muntah – muntah • Nyeri pada perut, diare • Nafas mulut berbau • Mungkin ada luka di mulut bila ada racun korosif TINDAKAN PERTOLONGAN PERTAMA 1. Beri minum susu atau air sebanyak – banyaknya kepada korban atauberi anti racun (norits , putih telut 2. Jangan dirangsang muntah pada kasus : menelan minyak, korban kejang, atau ada bakat kejang, korban berpenyakit jantung, korban tidak sadar atau pada gangguan kesadara 3. Segera bawa ke RS PERDARAHAN Macam – macam perdarahan dilihat dari sudut keluarnya darah : 1. Perdarahan Keluar 2. Perdarahan Didalam Perdarahan dilihat dari sudut macam pembulu darah yang putus 1. Perdarahan pembuluh Nadi ( Arterie ) 2. Perdarahan pembuluh Balik ( Vena ) 3. Perdarahan Pembuluh Rambut ( Capiler ) Tanda Perdarahan • Perdarahan Pembuluh Nadi (Arterie) 1. Darah keluar memancar menurut gerakan denyut jantung 2. Warna darah merah muda (karena mengandung Zat Asam) • Perdarahan Pembuluh Balik (Vena) 1. Darah keluar tidak memancar hanya mengalir 2. Warna darah merah tua (karena mengandung zat asam arang • Perdarahan Pembuluh Rambut (Capiler) 1. Darah keluar sedikit-sedikit seperti titik embun 2. Ini tidak berbahaya karena pembuluh darahnya sangat kecil PENGERTIAN DARI “ LUKA “ Luka adalah putus atau robek jaringan kulit yang tembus kedalam dikarenakan benda tajam, seperti :  Luka Memar ( karena pukulan )  Luka Gores  Luka Tusuk  Luka Potong  Luka Bacok  Luka Robek  Luka Tembak  Luka Bakar  Luka Iris  Luka Lecet A. Tindakan Pertolongan 1. Menghentikan Perdarahan 2. Mencegah Infeksi 3. Mencegah kerusakan lebih lanjut dari pada jaringan B. Pencegaran infeksi dapat dilakukan dengan 1. Menberikan betadin 2. Tepung sulfa steril 3. Luka di tutup dengan pembalut steril C. Tidakan untuk mengatasi perdarahan (Ingat 5 T) T – 1 = Tekan bagian yang berdarah selama 5-15 menit T – 2 = Tinggikan anggota badan yang luka T – 3 = Tidurkan korban dengan kepala lebih rendah T - 4 = Tekan pembuluh madi (antara tempat perdarahan dengan jantung T – 5 = Tenangkan Korban GEJALA DAN TANDA KERACUNAN ZAT KIMIA MELALUI KULIT ATAU KONTAK DENGAN KULIT 1. Gatal dan bengkak meliputi kulit yang terkena 2. rasa terbakar 3. kulit kadang kemerahan PERTOLONGAN PERTAMA YANG DAPAT DILAKUKAN 1. Lepaskan pakaian, cincin. jam tangan dan sesuatu yang melekat atau bahan yang terkena 2. Sisa zat kimia yang masih tersisa pada kulit siram dengan air sekurang kurangnya selama 20 menit 3. Zat kimia berbentuk bubuk, disapu dulu dengan kuas/sikat lembut, baru disiram dengan air sebanyak banyaknya GEJALA DAN TANDA KERACUNAN MELALUI SUNTIKAN ATAU GIGITAN BINATANG 1. Mual disertai dengan muntah 2. Nadi lemah dan cepat 3. Sulit untuk bernafas 4. Badan terasa lemah 5. Bengkak dan nyeri didaerah gigitanS TINDAKAN PERTOLONGAN PERTAMA 1. Jaga korban agar tetap tenang dan istirahat 2. Cuci luka gigitan dengan air sabun 3. Posisi luka lebih rendah dari jantung 4. Immobilisasi daerah gigitan dengan pembalutan 5. Bawa segera ke RS PEMBALUTAN 1. KEGUNAAN PEMBALUT 1. Menutup Luka 2. Melakukan penekanan 3. Mengurangi/mencegah pembengkakan 4. Membatasi pergerakan 5. Mengikat Bidai 2. APA YANG HARUS DIPERHATIKAN PADA SAAT MEMBALUT 1. Awasi muka korban 2. Balutan jangan kendor, karena dapat tergeser 3. Balutan jangan terlalu erat, karena dapat menghalangi perdarahan 4. Pada saat membalut posisi korban berbaring atau duduk 3. TUJUAN DARI PEMBALUTAN 1. Mengurangi resiko kerusakan jaringan yang telah ada sehingga mencegah maut 2. Mengurangi rasa nyeri/sakit 3. Mencegah cacat dan infeksi 4. MACAM-MACAM PEMBALUT 1. Pembalut Segi Tiga (Mitela) 2. Pembalut Plester 3. Pembalut Pita/Gulung/Perband 4. Pembalut Cepat 5. INDIKASI PEMBALUT 1. Dalam membalut ada hubungan dengan pemasangan bidai/spalek pada pertolongan pertama (PP) 2. Untuk menutup luka supaya tidak kena cahaya, debu, atau kotoran, untuk menekan, menarik,menahan dan untuk imobilisasi (agar anggota tubuh tidak bergerak) 3. Menghentikan perdarahan, melindungi bakteri/kuman pada luka dan mengurangi rasa nyeri pada luka dll KEJADIAN KHUSUS 6. KEMASUKAN BENDA ASING 7. KECELAKAAN LISTRIK 8. K E J A N G 9. SENGATAN PANAS 10. TERKILIR 11. KESELAK/TERSEDAK 12. KERACUNAN 13. TENGGELAM 14. KEDINGINAN PENGANGKUTAN 1. PENGANGKUTAN ORANG SAKIT/LUKA 2. PENGANGKUTAN OLEH SATU ORANG 3. PENGANGKUTAN OLEH DUA ORANG 4. PENGANGKUTAN OLEH TIGA ORANG 5. PENGANGKUTAN OLEH EMPAT ORANG 6. PENGANGKUTAN MENGGUNAKAN ALAT/TANDU 7. PEMBUATAN TANDU DARURAT

HIV/AIDS

HIV/AIDS 1. Pengertian AIDS (Acquid Immune Deficiency Syndrome) adalah kumpulan gejala penurunan kekebalan tubuh, sehingga tubuh rentan terhadap penyakit lain yang mematikan. AIDS disebabkan oleh virus (jasad sub Renik) yang disebut dengan HIV (Human Immunodeficiency Virus). 2. Cara HIV melemahkan sistem kekebalan tubuh Sasaran penyerangan HIV adalah Sistem Kekebalan Tubuh, terutama adalah sel-sel limfosit T4. Selama terinfeksi, limfosit menjadi wahana pengembangbiakan virus. Bila sel-sel Limfosit T4 – nya mati, virus akan dengan bebas menyerang sel-sel Limfosit T4 lainnya yang masih sehat. Akibatnya, daya tahan tubuh menurun. Akhirnya sistem kekebalan tak mampu melindungi tubuh, maka kuman penyakit infeksi lain (kadang disebut Infeksi Oportunistik-Infeksi mumpung) akan masuk dan menyerang tubuh orang tersebut. Bahkan kuman-kuman lain yang jinak tiba-tiba menjaddi ganas. Kumannya bisa virus lain, bakteri, mikroba, jamur, maupun mikroorganisme patogen lainnya. Penderita bisa meninggal karna TBC, diare, kanker kulit, infeksi jamur, dll. 3. Cara mengetahui seseorang mengidap HIV Sejak tertular sampai dengan mendapat Infeksi oportunisik, tidak mudah menyatakan seseorang mengidap HIV, hanya dengan melihat fisiknya, tetapi secara dini seseorang dapat diketahuio mengidap HIV/AIDS dengan uji HIV di labratorium untuk mengetahui adanya zat anti (anti body) dalam darahnya. Seseorang yang tertular HIV melampaui tahapan (atau stadium) sebagai berikut : a. Stadium Inkubasi : Virus menginfeksi tubuh dan bersembunyi dalam sel darah putih. Umumnya, belum menunjukan gejala apa-apa. Sebagian orang mungkin merasa lelah, kehilangan selera makan, sedikit pembengkakan pada kelanjar getah bening (diketiak, dileher dan paha). Pada masa ini, HIV dalam darah belum dapat ditentukan, namun ia telah mampu menularkan HIV pada orang lain. b. Stadium Awal : Sesudah 2-6 bulan, baru pemeriksaan darah tersebut akan menunjukan tanda HIV positif atau disebut SEROPOSITI, artinya dalam tubuh orang tersebut telah terbentuk zat anti (anti body) terhadap virus HIV. Seseorang yang seropositif HIV, kemungkinan akan tetap sehat, atau menderita tanda atau gejala pesakitan biasa antara lain : pembengkakan kelenjar getah bening, berkurangnya berat badan, berkeringat, diare dan beberapa infeksi ringan. c. Stadium Tenang (Window Period) : Masa ini umumnya berjalan 3-15 tahun, rata-rata 5 tahun. Pada masa ini orang yang seropositif terhadap HIV secara fisik mungkin kelihatan sehat dan normal atau sakit ringan yang umum. Namun secara perlahan-lahan, HIV akan menghancurkan sistem kekebalannya. d. Stadium AIDS (Full Blown) : Pada masa ini virus akan menghancurkan sebagian besar atau seluruh sistem kekebalan tubuh, sehingga mulai nampak adanya infeksi oportunistik, antara lain : radang paru-paru, kanker kulit, TBC, penyakit syaraf, penyakit saluran cerna dan berbagai kanker lainnya. Penyakit-penyakit ini sulit disembuhkan, dan umumnya bila keadaan umum penderita kian memburuk, penyakit tersebut menyebabkan kematiannya. 4. HIV dapat ditularkan Bila seseorang telah seropositif terhadap HIV. Dalam jumlah besar HIV terdapat dalam darah, cairan vagina, air mani serta produk darah lainnya. Apabila sedikit, darah atau cairan tubuh lain dari pengidap HIV berpindah secara langsung ke tubuh orang lain yang sehat, maka ada kemungkinan orang lain tersebut tertular AIDS. Cara penularan yang paling umum ialah : senggama, tranfusi darah, jarum suntik dan kehamilan. Penularan lewat produk darah lain, seperti ludah, kotoran, keringat, dll secara teoritis mungkin bisa terjadi, namun risikonya sangat kecil. a. Penularan lewat senggama Pemindahan yang paling umum dan paling sering terjadi ialah melalui senggama, dimana HIV dipindahkan melalui cairan sperma atau cairan vagina. Adanya luka pada pihak penerima akan memperbesar kemungkinan penularan. Itulah sebabnya pelaku senggama yang tidak wajar (lewat dubur terutama), yang cenderung lebih mudah menimbulkan luka, memiliki kemungkinan lebih besar untuk tertular HIV. b. Penularan lewat transfusi darah Jika darah yang ditransfusikan telah terinfeksi oleh HIV, maka virus HIV akan ditularkan kepada orang yang menerima darah, sehingga orang itupun akan terinfeksi virus HIV. Risiko penularan melalui transfusi darah ini hampir 100%. c. Penularan lewat jarum suntik Model penularan lain secara teoritis dapat terjadi antara lain melalui :  penggunaan akupuntur/tusuk jarum, tato, tindik.  Penggunaan alat suntik atau Injeksi yang tidak steril, yang seringkali dipraktekkan para pengguna narkoba suntikan, juga suntikan oleh petugas kesehatan secara ilegal. d. Penularan lewat kehamilan Jika ibu hamil yang dalam tubuhnya terinfeksi HIV, maka virus HIV dapat ditularkan ke janin yang dikandungnya melalui darah dengan melewati plasenta. Risiko penularan ibu hamil ke janin yang dikandungnya berkisar 20 % - 40 %. Risiko ini mungkin lebih besar kalau ibu telah menderita kesakitan AIDS (full blown). HIV tidak ditularkan Dengan demikian jelas pula bahwa semua hal yang tidak berkait dengan model penularan langsung seperti di atas, kemungkinan sangat besar tidak akan menularkan HIV. Misalnya : a. Berjabat tangan dengan para penderita AIDS. b. Memberikan P3K dengan prosedur yang benar. c. Bermain-main dengan para pengidap HIV. d. Berciuman tanpa kontak cairan mulut atau darah dari luka. e. Tidur bersama dengan penderita AIDS. f. Digigit nyamuk atau serangga. g. Bertukar pakaian atau barang lain milik pengidap HIV. h. Berak atau kencing di WC Umum. i. Berenang bersama dengan penderita AIDS. j. Anak yang digendong oleh Pengidap AIDS. k. Naik bis yang penuh sesak dengan para penderita AIDS. l. Percikan ludah, batuk atau bersin dari penderita AIDS. m. Merawat pengidap AIDS sesuai prosedur. n. Makan dan minum bersama dengan pengidap AIDS. Cara remaja melindungi diri dari penularan HIV Kita semua, khususnya remaja harus melindungi diri dari AIDS. Karena kalau seorang remaja tertular HIV, maka keseluruhan cita-cita dan masa depan remaja tersebut hancur lebur. Secara mudah, perlindungan dari AIDS dilakukan dengan cara ‘ABC’, ialah : a. [A] : Abstinence alias P u a s a bagi remaja lajang belum menikah. Jangan dekat-dekat senggama, jauhkan diri dari zina. Onani atau masturbasi, merangsang diri sendiri sehingga puas (orgasmus) sebenarnya kurang baik. Namun risikonya paling kecil. Jadi dalam keadaan yang benar-banar tidak kuasa menahan diri dan tidak mampu berpuasa, onani dapat dijadikan jalan keluar. Asal jangan menjadi kebiasaan. Jangan terlalu sering. b. [B] : Be Faithful alias Setia Pasangan Hidup bagi mereka yang sudah menikah. Hanya bersenggama dengan pasangan setianya. Sebagian besar satu suami dengan satu istri. Dalam keadaan khusus satu suami dengan 2-4 istri, namun yang penting kesetiaan dari semua pihak, baik istri maupun suami. Di sinipun, bila suami istri berpisah dalam waktu lama, onani merupakan jalan keluar sementara yang risikonya paling kecil. c. [C]Condom alias Kondom bagi mereka yang berada dalam keadaan-keadaan khusus, antara lain ialah para suami atau remaja ‘bermoral rendah’ yang tidak kuat puasa atau setia (atau onani), dan masih terdorong melakukan zina. Pemakaian kondom akan melindungi mereka dari penularan PHS dan AIDS (diluar dosa masing-masing), dan melindungi istri atau pacar mereka dari penularan penyakit. Bagi para pelacur, patut ditumbuhkan motivasi memakaikan kondom pada pasangan kencan mereka. Dalam keadaan darurat, misalnya pasangan suami-istri di mana salah satu menderita PHS, juga AIDS, pemakaian kondom amat dianjurkan untuk mencegah penularan AIDS lebih lanjut kepada pasangannya. Yang penting dalam pemakaian kondom ialah melindungi keseluruhan penis dan dipakai sepanjang proses senggama untuk menghindari sentuhan antara penis dan vagina. Tambahan perlindungan yang sangat penting ialah : a. Hindari transfusi, dengan selalu berhati-hati. Bila terpaksa ditransfusi, yakinkan bahwa darah yang ditransfusi adalah darah yang telah diperiksa oleh Unit Kesehatan Transfusi Darah PMI (UKTD PMI0 sebagai darah bebas HIV (juga bekas Hepatitis, Malaria dan Sifilis dsb). b. Hindari suntik menyuntik. Sebagian besar obat berdampak sama atau labih efektif diminum daripada disuntikan. Bila terpaksa disuntik, yakinkan jarum dan tabung suntiknya baru dan belum dipakai untuk orang lain. c. Berhati-hati dalam menolong orang luka dan berdarah. Gunakan prosedur P3K yang baku dan aman. d. Bila ada sesuatu tanda atau gejala yang meragukan, secepatnya diperiksa ke dokter. e. Sikap kita terhadap pengidap HIV/penderita AIDS Semua harus bersikap biasa (tanpa membedakan) seperti sikap kita terhadap orang sehat atau penderita penyakit lain. Semua hal dapat dilaksanakan dengan orang tersebut, kecuali kegiatan yang memindahkan darah (atau cairan tubuh lain) dari orang tersebut kepada orang lain, misalnya : senggama tanpa kondom, transfusi darah, suntik dengan alat yang sama, dll. Sikap membedakan, apalagi sikap memusuhi, akan membuat penderita tertekan. Akibatnya, dapat mendorong mereka menularkan penyakitnya secara tak bertanggungjawab. Sebaliknya penderita HIV/AIDS membutuhkan dukungan agar mereka memiliki kepercayaan diri dan mampu berbuat banyak bagi masyarakat. Untuk membantu penderita AIDS : a. Bangkitkan kepercayaan mereka, dan berilah dukungan dan kasih sayang. Katakan bahwa mereka masih bisa berbuat apa saja seperti sebelumnya. Satu-satunya beda ialah bahwa mereka harus memakai kondom kalau melakukan senggama. b. Berilah pemahaman terhadap masalah yang akan mereka hadapi dan cara mengatasinya. c. Jangan merasa tertekan secara berlebihan, karena semua orang pasti diberi cobaan. d. Harus pasrah kehadirat Allah dan tabah menghadapinya, tak perlu menyesali diri berlebihan. e. Lebih mendekatkan diri pada Tuhan dengan memperbanyak doa dan ibadah. f. Tak perlu merasa kehilangan hak mndapat pelayanan dan perawatan dari orang lain. g. Jalinlah komunikasi untuk berbagi rasa secara terbuka dan jujur. Untuk membantu keluarganya : a. Terimalah anggota yang menderita AIDS secara wajar. b. Jangan dibedakan, jangan ditakuti, jangan disingkiri. Tapi juga jangan dilebih-lebihkan. c. Dalam semua hal, berbuatlah seperti biasa. Satu-satunya perkecualian ialah dalam bersenggama dengan pasangannya, harus selalu memakai kondom. d. Besarkan jiwanya. e. Ajak untuk meningkatkan ibadah dan melakukan lebih banyak kegiatan yang bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat. 7. Cara merawat penderita HIV/AIDS Untuk bisa merawat para penderita HIV/AIDS, maka pertama-tama kita coba untuk membayangkan diri kita sendiri sebagai pengidap HIV/AIDS. Dengan mengetahui mana aktivitas yang berisiko menularkan HIV/AIDS dan mana yang tidak, kita siap memperlakukan para penderita tersebut, secara wajar-wajar saja. Yang perlu diperhatikan, kita harus tetap memperhatikan prosedur P3K maupun perawatan penderita yang memenuhi keselamatan penolongnya. Penderita AIDS dalam stadium berat perlu dirawat oleh Tenaga Kesehatan yang berpengalaman. Sedang perawatan dirumah bagi penderita yang tidak berat, perlu hati-hati untuk memutuskan risiko penularan. Penggunaan prosedur P3K yang aman ialah sebagai berikut : a. Gunakan sarung tangan dan celemek untuk tugas perawatan b. Cucilah tangan setiap bertugas dalam peawatan c. Pakaian kotor dan berdarah harus dicuci dengan air panas d. Sikat gigi dan alat cukur jangan digunakan bergantian e. Hindai kontak langsung, bila anda punya luka ROKOK 1. Manfaat dan mudzarat rokok Sebagaimana halnya berbagai aktivitas,merokok ada manfaat dan mudzaratnya. Namun, merokok mengandung lebih banyak mudzaratnya daripada manfaatnya. Manfaatnya antara lain ialah : a. Mengurangi stres, tekanan, atau perasaan yang kurang enak, sehingga secara tidak langsung menyebabkan remaja menjadi lebih berani. b. Menimbulkan perasaan nikmat. c. Mempererat pergaulan antar kawan, terutama bila semua kawan merokok. d. Meningkatkan keberanian dan perasaan ‘jantan’, ‘jagoan’, atau ‘macho’. e. Mengurangi nafsu makan, sehingga bisa mencegah kegemukan Mudzaratnya antara lain ialah : a. Rokok mengandung sekitar 700 jenis racun yang berbahaya bagi kesehatan, antara lain yang telah dikenal dengan baik ialah karbon monoksida (CO) yang bisa mematikan, nikotin yang mendorong pengkapuran jantung dan pembuluh darah, tar yang dapat menyumbat dan mengurangi fungsi saluran nafas dan menyebabkan kanker, serta berbagai bahan kimia yang dapat menimbulkan racun pada hati, otak, dan pembentuk kanker. b. Rokok menurunkan konsentrasi, misalnya sewaktu mengemudi, berfikir, dll. c. Rokok menurunkan kebugaran tubuh. d. Rokok bukan hanya meracuni para perokok sendiri, namun juga orang-orang yang disekitarnya (sebagai perokok pasif) dengan bahaya yang sama. e. Rokok menimbulkan ketergantungan dan perasaan ‘kehilangan sesuatu’ kalau rokok tidak tersedia, yang berakibat pada penurunan prestasi belajar dan bekerja. f. Rokok memboroskan. g. Sekarang rokok bukan lagi tanda ‘jagoan’ tapi cenderung pada tanda ‘kampungan’. h. Rokok dapat menyulut kebakaran. 2. Faktor yang mendorong remaja mulai dan terus merokok Hal-hal di bawah ini, sendiri-sendiri atau bersama-sama bisa mendorong remaja mulai merokok dan terus merokok : a. Rasa ingin tahu sampai menjadi ketergantungan. b. Untuk meningkatkan kejagoannya. c. Hasrat berkelompok dengan kawan senasib dan sebaya. d. Adanya stres atau konflik batin atau masalah yang sulit diselesaikan. e. Dorongan dari lingkungan sosial yang ‘mendesak’ remaja untuk merokok atau kalau tidak dianggap tidak solider dengan lingkungan sosialnya. f. Ketidaktahuan akan bahaya merokok. 3. Cara menghentikan kebiasaan merokok Beberapa hal dapat kita lakukan untuk menghentikan kebiasaan merokok secara bertahap : a. Yakin dan optimis, bahwa kita dapat berhenti merokok. b. Tanamkan rasa benci pada rokok (hindari rokok). c. Kurangi kumpul-kumpul tanpa tujuan dengan perokok. d. Menjaga makanan sehari-hari. e. Cukup olah raga, tidur dan istirahat. f. Jangan menahan lapar lama-lama. g. Menjauhkan makanan yang banyak sekali bumbunya dan menjauhi alkohol. h. Jika ada keinginan merokok, alihkan perhatian pada hal lain, dalam hal ini permen karet atau permen lain dapat dipakai sebagai pengganti rokok sementara. i. Berniat serius berhenti merokok dan berserah diri pada Tuhan. Yang terpenting dari semuanya ialah pengendalian diri dan kepercayaan diri bahwa remaja yang berhasil ialah remaja yang mandiri, tidak bergantung pada hal-hal yang diluar dirinya, apalagi hanya rokok. ALKOHOL 1. Pengertian alkohol dan minuman keras (miras) ALKOHOL merupakan cairan yang bening, tak berwarna, mudah menguap dan mudah terbakar. Diperoleh dari hasil fermentasi karbohidrat. Alkohol mudah dimetabolisme oleh tubuh, sehingga cepat memenuhi kebutuhan kalori. Minuman keras (MIRAS) ialah minuman yang secara sengaja diberi alkohol. 2. Manfaat dan mudzarat alkohol bagi manusia Alkohol memberi beberapa manfaat antara lain ialah : a. Dalam kehidupan sehari-hari alkohol berperan penting sebagai campuran makanan dan minuman, disinfektan (pencuci hama), bahan bakar, dan bahan dasar sebagai obat dan kosmetika. b. Setelah minum alkohol, badan terasa hangat, terutama untuk daerah-daerah berhawa dingin. c. Alkohol dapat menurunkan kesadaran, sehingga dapat mengurangi stres. d. Minum miras sering dianggap sebagai tanda dari kejantanan, kedewasaan, dan kehidupan modern, termasuk juga dikalangan remaja. Namun alkohol memiliki banyak mudzarat yang lebih besar daripada mafaatnya, antara lain ialah : a. Segera setelah diminum, alkohol menurunkan kesadaran, sehingga menimbulkan penurunan kemampuan untuk berbuat baik, belajar dan bekerja. Bila berkendaraan mudah menimbulkan kecelakaan lalu lintas karena menurunnya konsentrasi akibat minum alkohol. b. Menyebabkan berbagai gangguan kesehatan, antara lain :  gangguan metabolisme yang bisa berdampak pada kelainan jantung sampai gagal jantung.  hambatan pembentukan trombosit, merusak sumsum tulang, sehingga dapat menyebabkan pendarahan, anemia dan kekurangan sel darah putih.  Dapat merusak hati, dalam jangka panjang mengakibatkan kegagalan fungsi hati dan kanker.  Meningkatan kerentanan infeksi karena kerusakan saluran nafas, hati, atau kurang makan.  Dapat menyebabkan kerusakan susunan syaraf. c. Menimbulkan ketergantungan fisik, yakni untuk mendapatkan rasa nyaman, yang dalam jangka panjang menyebabkan ketergantungan psikis (jiwa), yaitu menimbulkan rasa gembira dan rasa optimis kepada pemakainya secara berlebihan, berakhir dengan peningkatan toleransi, yakni memerlukan dosis alkohol yang semakin lama semakin tinggi. 3. Faktor-faktor yang mendorong remaja terjerumus dalam ketergantungan alkohol/miras Pengenalan pada alkohol atau miras hampir sama kejadiannya dengan pengenalan pada rokok, ialah : a. Rasa ingin tahu sampai ketergantungan. b. Untuk meningkatkan kejagoannya, kelaki-lakian dan modernisasi. c. Hasrat berkelompok dengan kawan senasib dan sebaya. d. Adanya stres atau konflik batin atau masalah yang sulit diselesaikan. e. Keinginan dianggap perkasa/jantan dan disegani. f. Dorongan dari lingkungan sosial yang ‘mendesak’ remaja untuk mencoba minum miras atau kalau tidak dianggap tidak solider dengan lingkungan sosialnya. 4. Cara remaja agar tidak terjerumus dalam ketergantungan alkohol/miras Bila terlanjur kenal dengan miras, usaha penghentiannya yang terpenting ialah pengendalian diri dan kepercayaan diri bahwa remaja yang berhasil menghentikan miras ialah remaja yang mandiri, tidak bergantung pada hal-hal lain diluar dirinya, apalagi hanya alkohol, dan berkembang menjadi remaja berprestsi. PENYALAHGUNAAN OBAT 1. Pengertian obat Obat ialah racun yang dibuat dari bahan kimia. Racun tersebut dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui kulit (obat luar), mulut (per oral), dubur (per anal), vagina dan semua lubang tubuh yang ada, serta disuntikan ke dalam otot atau pembuluh darah. Apabila digunakan dengan alasan tepat dengan dosis tepat, obat akan bermanaat. Namun bila disalahgunakan artinya digunakan tanpa alasan yang tepat, dalam cara yang tidak tepat, dan dosis yang tidak tepat, maka obat akan meracuni tubuh, mulai dari ketergantungan sampai pada perusakan alat-alat tubuh dan dapat menimbulkan kematian. 2. Jenis-jenis obat yang ada dilingkungan masyarakat Ada 4 golongan obat berdasarkan bahaya dan cara mendapatkannya : a. Obat Bebas, yang dapat dibeli dan diminum secara bebas. b. Obat Bebas Terbatas, hanya dapat diperoleh dengan resep dokter. c. Obat Berbahaya, seperti Obat Anti Depresansia (penekanan kesedihan), Stimulansia (perangsang), dan Halusinogen (pembentuk mimpi palsu yang indah), Pil BK, Mandrax (Mx), Ekstasi, dll, termasuk ke dalam golongan Obat Berbahaya ini. d. Narkotika, antara lain : candu, ganja, heroin, kokain, morfin dan turunannya. Dalam kenyataannya, di beberapa kota besar, Obat-obat Bebas Terbatas, Berbahaya dan Narkotika kadang dapat dibeli secara bebas, bahkan kadang-kadang ditawarkan secara langsung oleh penjualnya kepada remaja secara gelap/sembunyi-sembunyi. 3. Alasan remaja menyalahgunakan obat Remaja menyalahgunakan obat dengan dua cara, yaitu Ngepil (bila lewat mulut) dan nyuntik (bila lewat suntikan). Remaja ngepil kebanyakan mulai dengan coba-coba, yang akhirnya menjadi ketergantungan. Coba-coba ini dipengaruhi beberapa hal antara lain : a. Adanya sikap individu yang berpotensi coba-coba, misalnya : mudah frustasi, tidak senang diatur, sulit bergaul, ingin dianggap hebat, agresif, eksperimental, mudah bosan, malas, dll. Atau sebaliknya sikap solider terhadap kawan yang berlebihan tanpa pikir panjang. b. Adanya trend (kecenderungan) penggunaan obat tertentu sebagai citra remaja modern (contoh : penggunaan ekstasi akhir-akhir ini). c. Hampir semua obat memiliki efek toleransi, makin lama dosis yang berefek makin besar. d. Mudahnya obat didapat disekitar tmpat tinggal emaja, sementara pengawasan obat kurang efektif. 4. Tahapan penyalahgunaan obat dikalangan remaja Biasanya, remaja ngepil melalui tahap-tahap berikut : a. Tahap pemakaian coba-coba. b. Tahap pemakaian Indental (kadang-kadang). c. Tahap penyalahgunaan. d. Tahap ketergantungan. 5. Bahaya ngepil Pengaruh obat secara umum ialah : a. Ketergantungan (kejiwaan, tanpa kerusakan tubuh) : di mana tanpa minum obat tertentu, remaja yang bersangkutan sudah tidak mampu lagi berprestasi sama sekali. b. Kecanduan : tubuhnya sudah terganggu, sehingga selalu memerlukan obat tersebut, umumnya remaja menjadi kurang peduli terhadap lingkungan, gangguan kepribadian dan mental, rasa percaya yang berlebihan, dll. c. Kesehatan : pengaruhnya tergantung pada bahan kimia yang terkandung dalam obat tersebut : pada penggunaan obat bebas dan bebas terbatas (catatan : sebenarnya sebagian besar remaja ‘ditipu’ untuk ngepil obat jenis ini) terjadi toleransi (obat tidak manju bila dosisnya tidaktinggi). Sedang pada beberapa obat berbahaya dan narkotika bisa menimbulkan tidak normalnya koordinasi motorik, bicara cedal/bertele-tele, merusak jantung, ginjal, hati, syaraf dan organ-organ tubuh lainnya; sekarang sering terjadi kematian mendadak akibat gagal jantung atau keracunan otak akibat dosis obat yang terlalu tinggi. 6. Bahaya nyuntik NYUNTIK memiliki bahaya sama dengan ngepil dalam tingkatan yang lebih parah, karena : a. Penyuntikan hampir selalu narkotika yang memiliki bahaya paling besar. b. Penyuntikan memiliki akibat yang lebih langsung ke dalam tubuh manusia. c. Penyuntikan umumnya lebih disukai bila penggunaan alat suntik dan jarum yang sama untuk beberapa remaja, karena sisa darah yang ada di alat suntik meningkatkan efek alat yang disuntikkan; dengan akibat nyuntik berisiko penularan berbagai penyakit lewat darah, antara lain : Hepatitis – B dan AIDS. 7. Cara kita menduga seorang remaja berada di bawah pengaruh obat berbahaya Remaja yang sedang ngepil, secara umum terlihat : a. Lesu dan gelisah. b. Banyak keluar keringat. c. Kurang konsentrasi. d. Gerakan bergetar. e. Kelihatan ketakutan. f. Banyak minum air. Tanda-tanda tersebut sangat nyata pada penggunaan ekstasi. 8. Cara membantu remaja mencegah diri dari ngepil/nyuntik Kalau masih coba-coba atau Indental, bantulah agar : a. Memiliki rasa malu, karena ngepil/nyuntik itu perilaku memalukan. b. Meninggalkan lingkungan ngepil/nyuntik. c. Aktif dalam berbagai kegiatan. d. Meningkatkan ibadah. e. Yang terpenting ialah mengembangkan sikap percaya diri dan pengendalian diri yang kuat. Untuk remaja yang sudah tergantung atau mencandu, seyogianya berkonsultasi dengan petugas kesehatan. HEPATITIS – B 1. Pengertian Hepatitis – B, yang disebabkan oleh sejenis virus, yang memiliki karakter mirip dengan HIV penyebab AIDS. Hepatitis – B merupakan penyakit peradangan hati yang berbahaya yang dapat berkembang menjadi penyakit kronis serta menjadi salah satu penyebab timbulnya kanker hati dan sirosis (matinya sel-sel hati). Awalnya, penyakit ini menunjukan gejala ringan serupa flu : tubuh lemas, cepat lelah, demam, sampai pada gejala berat, seperti : muntah-muntah, demam sangat tinggi dan kemudian warma kulit menjadi kakuning-uningan. Pada keadaan berat terdapat gejala-gejala menurunnya fungsi hati, yang bisa berakhir dengan kanker, atau bila “sembuh”, sel-sel hati mati dan menjadi siosis, yang bila meluas menyebabkan gangguan penurunan fungsi hati, seperti : edema, pendarahan lambung, dll. Selain Hepatitis – B, berkembang pula jenis baru, yaitu Hepatitis – c dan Hepatitis – D yang memiliki keganasan lebih tinggi darpada Hepatitis – B. 2. Proses penularan Penularan Virus Hepatitis – B terjadi persis sama dengan penularan HIV, ialah berupa penularan langsung melalui darah atau produk-produk darah, mencakup : a. Senggama. b. Tranfusi darah dan penggunaan alat kedokteran yang kurang bersih. c. Dari ibu hamil kepada janin yang dikandungnya. Yang patut diwaspadai ialah kegemaran suntik di kalangan masyarakat Indonesia. 3. Cara pencegahan dan pengobatan Hepatitis – B dapat dicegah dengan vaksinasi. Dengan cara ini, tubuh akan menghasikan zat anti terhadap Hepatitis – B yang disebut anti HBs. Tidak semua orang perlu divaksinasi. Seseorang yang telah terlanjur terkena Virus Hepatitis – B atau yang secara alamiah telah memiliki anti HBs tidak perlu mendapat vaksinasi. Selain itu, pencegahan yang sama juga harus dilakukan sebagaimana halnya dengan pencegahan AIDS. Pola ABC, ‘Abstinance’ bagi yang belum menikah ‘ Be Faithful’, dan ‘Condom’ dalam keadaan darurat juga diterapkan dalam pencegahan Hepatitis – B. Ada beberapa jenis obat yang dapat digunakan untuk melumpuhkan virus Hepatitis – B pada stadium awal penyakit, yang hanya bisa didapat dengan resep dokter. Bila sudah lanjut, yang lebih penting ialah memelihara sel-sel hati yang masih baik, agar dapat berfungsi normal. Makanan sehat membantu usaha tersebut. TUBERCULOSIS (TBC) 1. Pengertian TBC merupakan penyakit menahun dan menular yang disebabkan oleh bekteri Mycobacterium tuberculosis yang ditularkan lewat dahak yang menyebar ke udara. TBC dapat menyerang setiap orang. Namun, paling sering pada usia 15 – 35 tahun, khususnya yang bertubuh lemah, kurang gizi atau tinggal dengan penderita TBC. TBC paling banyak menyerang paru-paru (saluran pernafasan). Namun TBC kemudian juga bisa menyerang alat tubuh yang lain. Pada anak, TBC dapat menyebabkan peradangan pada selaput otak dan gangguan kulit. TBC menjadi kian pening karena semula semua orang mengira penyakit ini sudah mulai menghilang, ternyata akhir-akhir ini penderita TBC menjadi kian banyak. Para penderita AIDS di beberapa negara Asia ternyata banyak meninggal karena TBC, akibat menurunnya daya tahan tubuh orang yang diserang AIDS tersebut. 2. Tanda dan gejala seseorang mengidap Tuberculosis (TBC) Seseorang mengidap TBC menunjukan tanda dan gejala sebagai berikut : a. Batuk lebih dari 4 minggu, walau telah minum obat biasa. b. Batuk menahun dan berlendir, pada stadium lanjut berdarah. c. Panas ringan pada sore hari dan berkeringat pada malam hari. d. Terasa nyeri pada dada dan punggung atas. e. Menjadi kurus. f. Kulit pucat. g. Suara menjadi parau/serak. h. Dalam stadium lanjut berbagai infeksi dapat disebabkan karena kuman TBC, termasuk infeksi kulit, selaput paru, otak, jantung dan berbagai organ tubuh penting lain. 3. Cara pencegahan dan pengobatan TBC Cara pencegahan : a. Vaksinasi BCG bagi bayi sedini mungkin. b. Makan makanan yang banyak mengandung protein dan vitamin. c. Makan dan istirahat yang teratur. d. Jaga kebersihan lingkungan. e. Pemeriksaan kesehatan secara teratur. f. Menghingdari berdekatan nafas dengan penderita TBC. Cara pengobatan : Sebenarnya berbagai obat sudah ditemukan sebagai obat TBC yang manjur. Termasuk INH, Streptomisin, Etambutol, PAS, dan Ripamfisin. Masalahnya obat-obat tersebut harus diminum dalam jangka panjang secara terus-menerus tanpa berhenti. Ini biasanya yang tidak dilakukan orang dengan benar. Disamping itu, makanan yang baik dan sehat, istirahat yang cukup membantu penyembuhan penyakit ini. KELUARGA 1. Rasa cinta keluarga sangat diperlukan bagi remaja Keluarga merupakan masyarakat terkecil dimana seorang remaja hidup. Dibandingkan dengan masyarakat lain, khususnya masyarakat sekolah dan kelompok bermain, maka dalam keadaan normal remaja tinggal paling lama dalam keluarga. Oleh karenanya keberhasilan remaja dalam belajar dan mempersiapkan masa depan sangat bergantung pada keterdekatan remaja tersebut dengan keluarganya. Rasa cinta kepada keluarga (bagaimanapun keadaan keluarga kita masing-masing) menjadi perekat bagi tumbuhnya rasa tanggung jawab, kematangan, dan kedewasaan seseorang. Rasa cinta antara anggota keluarga ditunjukan dengan adanya rasa saling percaya, saling menghargai, saling bersikap jujur dan saling terbuka diantara anggota-anggota keluarga. Rasa cinta juga dicerminkan pada cara-cara berkomunikasi antar anggota keluarga. 2. Cara remaja dalam membina komunikasi dalam keluarga Masing-masing anggota keluarga memiliki pendidikan dan pengalaman sendri-sendiri. Pendidikan dan pengalaman tersebut disampaikan dalam pendapat dan sikap dalam menghadapi suatu hal atau masalah. Perbedaan-perbedaan pendapat dan sikap tersebut sebenarnya wajar saja. Asalkan semuaanggota keluarga saling menghargai pendapat dan sikap anggota keluarga yang lain. Masalah muncul bila orang tua cenderung menganggap mereka sudah lebih dulu dewasa dan kaya pengalaman, sedang anak-anak, juga dalam kurun remaja, belum cukup matang untuk berpendapat dan bersikap dalam suatu hal. Sebaliknya di kalangan remaja juga sering timbul pendapat bahwa merekalah yang lebih tahu masalah-masalah kehidupan kini, sedang orang tua mereka sudah kuno, ketinggalan jaman, dan pendapatnya sudah tidak sesuai lagi dengan zaman sekarang. Komunikasi antara remaja perempuan dengan orang tua dan anggota keluarga lain seringkali lebih sulit. Hal tersebut disebabkan adanya perbedaan pendapat yang banyak dilakukan remaja perempuan. Bila perbedaan tersebut menjadi tajam pada hal-hal yang penting, dari pihak remaja seyogyanya jangan bertindak keras dan kasar. Sikap terpuji ialah diam atau mengiyakan (walau tidak setuju dengan pendapat atau sikap orang tuanya), sementara ia mencari waktu dan situasi yang tepat untuk secara perlahan-lahan memberitahukan (atau merayu) kepada orang tuanya tentang pendapat dan sikapnya yang berbeda. Bila masalahnya sangat serius, sedang rayuan tidak mempan , hadirnya orang ketiga mungkin membantu. Kakek, saudara tua yang lain, kadang bisa berperan sangat baik dalam menjembatani perbedaan yang ada. Dalam situasi seperti itu, tindakan remaja yang paling fatal ialah ‘meninggalkan keluarga’ baik terang-terangan maupun diam-diam, dan mengalihkan kepercayaan pada orang lain. TEMAN SEBAYA 1. Pengertian teman Teman sejati ialah orang yang hadir di hadapan kita dan siap menolong kita pada saat kita memerlukannya (‘a friend indeed is a friend in need’). Orang yang tanpa diminta siap menolong kita. Dalam bahasa sajak “yang siap menyediakan bahu tempat kita menangis” (‘shoulder to cry on’). Persis seperti yang terjadi dalam permainan bujur sangkar pecah. Teman ialah orang yang memperhatikan kebutuhan orang lain, yang tahu persis kebutuhan orang lain, dan dengan ikhlas memberikan miliknya kepada orang lain agar orang lain dapat menyelesaikan tugasnya. 2. Pengertian teman sebaya Teman sebaya ialah teman yang sangat akrab dengan kita, karena jenis kelamin yang sama, atau usia berdekatan, atau rumah berdekatan, atau bersekolah di sekolah yang sama, atau seminat dan seterusnya. Sehingga diantara teman sebaya hampir tidak ada rahasia lagi. Karena keterdekatannya, teman sebaya bisa saling mempengaruhi untuk sesuatu menuju kebaikan. Sebaliknya kesetiakawanan antara teman sebaya bisa pula saling menjerumuskan ke dalam hal-hal yang berisiko merugikan. Dalam kerangka pengertian tersebut, maka dalam keluarga sebenarnya remaja memerlukan ‘teman sebaya’, baik antara remaja dengan kakak yang sudah dewasa, maupun remaja dengan kedua orang tua. Dari pihak remaja, yang terpenting ialah sikap menjadi “friend in need” dalam keluarga. Demikian pula seyogyanya kedua orang tua dan saudara-saudara yang lain siap untuk menjadi teman sebaya bagi remaja dalam keluarga. 3. Cara kita menempatkan diri sebagai teman sebaya bagi remaja lainnya Tantangan bagi setiap remaja sebagai teman bagi remaja lainnya ialah : a. Mencari dan mendapatkan teman sebaya yang bisa saling mengajak pada kebaikan, dan bukannya mengajak pada hal-hal yang kurang baik, lebih-lebih perilaku beresiko. b. Menjadi suri tauladan baik sikap maupun kepribadian bagi remaja-remaja sebaya lain. c. Bagaimana menempatkan dirinya sebagai teman sebaya kawan-kawan di lingkungan sekolah atau lingkungan bermainnya, yang dipercaya akan dapat membantu mereka memecahkan segala macam persoalan mereka, tanpa diminta. Juga dalam keluarga masing-masing. PENDIDIKAN REMAJA SEBAYA (PRS) 1. Makna dari Pendidikan Remaja Sebaya (PRS) Pendidikan Remaja Sebaya (PRS) adalah penjabaran dari rasa kesetiakawanan, perasaan senasib sepenanggungan. Pendidikan Remaja Sebaya (PRS) juga sebagai bukti bahwa seorang teman adalah teman sejati. Dalam kehidupan kita sehari-hari, sebenarnya kita sudah melakukan Pendidikan Remaja Sebaya (PRS) dalam bentuk berkomunikasi dua arah dengan teman sebaya. Kadang-kadang kita menasehati teman kita, diwaktu lain teman kita menasihati kita tentang sesuatu. Yang semata-mata dilakukan karena saling menyayangi dengan teman sebaya kita tersebut. Pendidikan Remaja Sebaya (PRS) yang kirta pelajari disini tidak lain ialah melaksanakan segala sesuatu yang sudah biasa kita lakukan, hanya kali ini menyangkut pada kesehatan dan kesejahteraan remaja. Demi kecemerlangan masa depan bersama. Sesuai cita-cita masing-masing. Para Pendidik Remaja Sebaya, yang sudah dilatih, didorong untuk terpanggil menyebarluaskan pengetahuannya kepada teman-teman sebayanya, disekolah dan dikelompok bermainnya, sesuai dengan masalah yang sedang dihadapi oleh teman-teman sebayanya. Tentu saja, para Pendidik sendiri diharapkan menjadi contoh tauladan bagi teman-teman sebayanya dalam berperilaku. Sikap menjaga rahasia teman merupakan prasyarat yang utama pula. 2. Cara kita melaksanakan Program Pendidikan Remaja Sebaya (PRS) Karena PRS dikemas dalam bentuk komunikasi tidak resmi antar teman sebaya, maka tidak ada cara baku untuk melaksanakan PRS. Tempatnya bisa dimana saja. Waktunya bisa kapan saja. Yang paling penting ialah menciptakan suasana saling percaya. Usahakan dijaga kerahasiaan teman. Seyogyanya Pendidikan Remaja Sebaya (PRS) dilakukan dalam tahapan-tahapan sebagai berikut : a. Tahap Penerimaan Pada tahap ini yang penting ialah mendengarkan keluhan atau masalah yang dialami teman. Tunjukan rasa tertarik anda. Bantu ia untuk mengungkapkan keseluruhan permasalahan yang dideritanya. Jangan beri nasehat apapun dalam tahap ini. Dengan menceritakan permasalahan kepada orang yang dipercaya, ia sebenarnya telah menyelesaikan 50 % dari permasalan yang mengganjalnya. Beberapa teman yang berperilaku beresiko kadang tidak mengerti sama sekali risikonya. Menghadapi teman yang demikian, diperlukan pertanyaan-pertanyaan pancingan, agar sedikit demi sedikit ia memahami risiko yang sedang dihadapinya. Ingat, jangan beri nasehat dalam tahap ini. b. Tahap pemasukan ide Pada tahap ini, pelan-pelan ide anda dimasukan kedalam benak dan hati teman anda. Usahakan untuk tidak tergesa-gesa, dan jangan banyak ide dimasukan sekaligus. Sebaiknya sedikit demi sedikit. Secara berulang-ulang dan berurutan. Juga diharapkan agar pemasukan ide jangan dikemas dalam suasana ‘menggurui’ atau ‘mendikte’. Kalau bisa diusahakan agar dibuat suasana sedemikian sehingga seakan-akan ide itu bukan datang dari anda, tetapi dari teman anda sendiri. Dengan kata lain, pada tahap ini anda membimbing teman anda untuk siap menolong diri sendiri. Sekali lagi ditekankan, bahwa pada tahap ini anda harus membuktikan bahwa anda sendiri konsekuen dengan sikap anda. Anda adalah contoh remaja yang sehat sejahtera. Hal paling penting ialah untuk mengimbangi keseluruhan upaya pemasukan ide dengan doa kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. c. Tahap pemeliharaan Ide yang sudah dimasukan, harus dipelihara. Karena pembentukan atau perubahan perilaku memerlukan waktu yang lama. Untuk keperluan pemeliharaan ini, diperlukan upaya terus menerus, berulang-ulang mengajak teman menuju arah dan cita-cita yang telah disepakati bersama. Usahakan agar tahap pemeliharaan ini disamarkan dalam bentuk silaturahmibiasa. Sehingga tidak kelihatan bahwa anda memaksakan keinginan anda untuk diikuti teman anda. Yang penting keseringan berkomunikasi dan membahas masalah-masalah yang ada. Yang tidak kalah penting ialah agar keseluruhan PRS selalu diimbangi dengan doa kehadirat Tuhan Yang Maha Esa.

Pengenalan dan Arti Lambang Palang Merah dan Bulan Sabit Merah

Pengenalan dan Arti Lambang Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Bidang Studi : Kepalang Merahan Jenjang : Palang Merah Remaja (PMR) Tingkat : Madya (SMP) Bahasan : Lambang Sub Bahasan : Pengenalan dan Arti Lambang Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Waktu : 2 x 45 menit. A. Tujuan Pembelajaran 1. Peserta mengenal lambang-lambang palang merah dan bulan sabit merah 2. Peserta dapat menceritakan sejarah perkembangan lambang 3. Peserta dapat menjelaskan arti dari lambang 4. Peserta dapat menjelaskan penggunaan lambang B. Media 1. Flipchart 2. Poster 3. Foto C. Metode 1. Ceramah 2. Tanya jawab 3. Diskusi D. Proses Pembelajaran Pelatih membuka proses pembelajaran dengan : 1. Memberikan pengantar mengenai materi yang akan disampaikan 2. Melakukan tanya jawab awal (Pretest) untuk mengetahui kemampuan awal peserta didik jika diperlukan. Penyampaikan materi dengan metode yang sesuai. 1. Pelatih menyampaikan materi mengenai sejarah lambang, diantaranya: a. Ciri lambang b. Asal-usul mengapa perlu lambang yang sama c. Adopsi Lambang Palang Merah d. Alasan pemilihan Lambang Palang Merah 2. Pelatih memperlihatkan beberapa gambar lambang palang merah dan bulan sabit merah kepada peserta ajar. Kemudian, pelatih mengajukan beberapa pertanyaan singkat, diantaranya: a. Apakah para peserta sudah pernah melihat gambar palang merah atau bulan sabit merah? b. Apabila pernah, di mana? c. Apa artinya apabila seseorang atau sebuah objek menggunakan lambang tersebut. 3. Pelatih menjelaskan lambang-lambang perhimpunan nasional yang diakui atau tercantum dalam oleh Konvensi Jenewa 1949. 4. Pelatih menjelaskan tentang fungsi lambang, diantaranya: a. Perlindungan b. Pengenal Berikan contoh melalui poster, photo, dan contoh nyata. 5. Pelatih memberikan penjelasan mengenai penyalahgunaan lambang a. Peniruan b. Penggunaan yang tidak tepat c. Penggunaan yang melanggar ketentuan 6. Pelatih mempersiapkan permainan berupa poster gambar situasi yang mengilustrasikan suasana penanggulangan bencana. Pada poster terdapat gambar yang diantaranya adalah ; tenda, ambulans, gedung sekolah, petugas/relawan, pengungsi, rumah sakit, dan komponen lain yang mendukung situasi penanggulangan bencana. a. Pelatih menyiapkan model lambang palang merah berbagai ukuran yang terbuat dari spon. b. Pelatih menempelkan beberapa poster tersebut pada dinding. c. Pelatih menjelaskan bahwa peserta akan melakukan permainan yang berhubungan dengan lambang. Peraturan permainan tersebut adalah : • Pelatih membagi peserta menjadi beberapa regu, setiap regu beranggotakan 3 (tiga) orang. • Pelatih memberikan 9 (sembilan) model lambang berbeda kepada masing-masing regu. • 3 (tiga) regu (atau lebih) pada jarak tertentu dalam waktu yang bersamaan ditugaskan untuk menempelkan model-model lambang tersebut pada poster yang ditempel pada dinding. Pada saat menempelkan model lambang tersebut harus dilakukan secara bergilir dari setiap anggota regu sehingga setiap peserta mendapat tugas 3 (tiga) kali menempel. • Evaluasi dari permainanan ini adalah : (1) ketepatan menempelkan lambang pada gambar-gambar yang terdapat pada poster tersebut sesuai materi yang telah disampaikan oleh pelatih sebelumnya. (2) Kecepatan dan kerjasama regu. a. Pelatih memberikan penjelasan makna dari permainan tersebut. 7. Pelatih menyampaikan intisari dari materi yang telah disampaikan. 8. Tanya jawab Catatan: 1. Penggunaan media pembelajaran disesuaikan ketersediaan media tersebut beserta alat bantunya. Diantaranya VCD Player dan televisi untuk pemutaran film, serta Over Head Projector untuk presentasi menggunakan transparansi. 2. Pelatih bisa menggunakan minimal salah satu media pembelajaran (poster, film, dan OHP), namun diharapkan bisa menggunakan gabungan antara media poster dan film. E. Evaluasi dan Pembahasan 1. Peserta diminta untuk menunjukkan kedua lambang palang merah dan bulan sabit merah 2. Peserta diminta untuk menceritakan kembali sejarah perkembangan lambang (dalam tulisan, secara oral atau dalam gambar) 3. Peserta diminta untuk menjelaskan apa arti dari penggunaan lambang oleh objek atau orang 4. Peserta diminta menunjukkan bagaimana penggunaan lambang yang benar dan salah F. Pustaka 1. Buku Panduan halaman 26 – 31 tentang Lambang 2. Leaflet lambang 3. Cerita sejarah lambang khusus anak-anak 4. Peraturan Penggunaan Lambang Palang Merah dan Bulan Sabit Merah oleh Perhimpunan Nasional (ICRC)

PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI PALANG MERAH REMAJA DI SEKOLAH

PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI PALANG MERAH REMAJA DI SEKOLAH Dewasa ini praktik pendidikan di Indonesia cenderung lebih berorentasi pada pendidikan berbasis hard skill (keterampilan teknis) yang lebih bersifat mengembangkan intelligence quotient (IQ), namun kurang mengembangkan kemampuan soft skill yang tertuang dalam emotional intelligence (EQ), dan spiritual intelligence (SQ). Pembelajaran di berbagai sekolah lebih menekankan pada perolehan nilai hasil ulangan maupun nilai hasil ujian. Sebagian besar guru masih memiliki persepsi bahwa peserta didik yang memiliki kompetensi yang baik adalah memiliki nilai hasil ulangan/ujian yang tinggi. Seiring perkembangan jaman, pendidikan yang hanya berbasiskan hard skill yaitu menghasilkan lulusan yang hanya memiliki prestasi dalam akademis, harus mulai dibenahi. Sekarang pembelajaran juga harus berbasis pada pengembangan soft skill (interaksi sosial) sebab ini sangat penting dalam pembentukan karakter anak bangsa sehingga mampu bersaing, beretika, bermoral, sopan santun dan berinteraksi dengan masyarakat. Pendidikan soft skill bertumpu pada pembinaan mentalitas agar peserta didik dapat menyesuaikan diri dengan realitas kehidupan. Kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan keterampilan teknis (hard skill) saja, tetapi juga oleh keterampilan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Sebagai upaya untuk meningkatkan kesesuaian dan mutu pendidikan karakter, Kementerian Pendidikan Nasional mengembangkan grand design pendidikan karakter untuk setiap jalur, jenjang, dan jenis satuan pendidikan. Grand design menjadi rujukan konseptual dan operasional pengembangan, pelaksanaan, dan penilaian pada setiap jalur dan jenjang pendidikan. Berdasarkan grand design yang dikembangkan Kemendiknas (2010), secara psikologis dan sosial kultural pembentukan karakter dalam diri individu merupakan fungsi dari seluruh potensi individu manusia (kognitif, afektif, konatif, dan psikomotorik) dalam konteks interaksi sosial kultural (dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat) dan berlangsung sepanjang hayat. Konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosial-kultural tersebut dapat dikelompokkan dalam (1) olah hati (spiritual and emotional development), (2) olah pikir (intellectual development), (3) olah raga dan kinestetik (physical and kinestetic development), dan (4) olah rasa dan karsa (affective and creativity development) Beberapa penemuan penting mengenai hal pendidikan karakter, antara lain hasil studi Dr. Marvin Berkowitz dari University of Missouri- St. Louis, menunjukan peningkatan motivasi siswa sekolah dalam meraih prestasi akademik pada sekolah-sekolah yang menerapkan pendidikan karakter. Kelas-kelas yang secara komprehensif terlibat dalam pendidikan karakter menunjukan penurunan drastis pada perilaku negatif siswa yang dapat menghambat keberhasilan akademik. HAKIKAT PENDIDIKAN KARAKTER Secara akademik, pendidikan karakter dimaknai sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerrti, pendidikan moral, pendidikan watak, yang tujuannya mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik-buruk, memelihara apa yang baik itu, dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati. Karena itu muatan pendidikan karakter secara psikologis mencakup dimensi moral reasoning, moral feeling, dan moral behaviour Karakter mengacu kepada serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivations), dan keterampilan (skills). Karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti “to mark” atau menandai dan memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku, sehingga orang yang tidak jujur, kejam, rakus dan perilaku jelek lainnya dikatakan orang berkarakter jelek. Sebaliknya, orang yang perilakunya sesuai dengan kaidah moral disebut dengan berkarakter mulia. Pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang, sesuai standar kompetensi lulusan. Melalui pendidikan karakter diharapkan peserta didik mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari Pembentukan karakter merupakan bagian penting kinerja pendidikan. Karakter merupakan bentuk kepribadian yang melekat pada diri seseorang. sebagaimana hadist Rosulullah saw, yang meyatakan bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, karena kedua orangtuanyalah (baca: lingkungan) menjadikan anak itu yahudi, nasrani atau majusi (HR. Bukhari). Ini menunjukkan bahwa fitrah atau potensi tidak bisa dibiarkan begitu saja tapi perlu ditumbuhkan, sebagaimana benih yang baik, kalau ditanam ditanah yang subur dan dirawat (disiram dan dipupuk) dengan baik, maka benih itu akan tumbuh menjadi tanaman yang subur dan berbuah banyak. Demikian juga dengan karakter yang merupakan bagian dari potensi anak , harus dibina dan dididik dengan baik, biar menjadi anak yang shaleh dan bermanfaat. PEMBINAAN PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI MANAJEMEN PMR Kegiatan ekstrakurikuler yang selama ini diselenggarakan sekolah merupakan salah satu media yang potensial untuk pembinaan karakter dan peningkatan mutu akademik peserta didik. Kegiatan Ekstrakurikuler merupakan kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran untuk membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, dan minat mereka melalui kegiatan yang secara khusus diselenggarakan oleh pendidik dan atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berkewenangan di sekolah. Melalui kegiatan ekstrakurikuler diharapkan dapat mengembangkan kemampuan dan rasa tanggung jawab sosial, serta potensi dan prestasi peserta didik. Palang Merah Remaja (PMR) adalah wadah pembinaan dan pengembangan anggota remaja PMI dengan tujuan membangun dan mengembangkan karakter anggota PMR yang berpedoman pada Tri Bakti PMR dan Prinsip Kepalangmerahan untuk menjadi relawan masa depan. Kebijakan PMI dan Federasi tentang remaja bahwa (1) remaja merupakan prioritas pembinaan, baik dalam keanggotaan maupun kegiatan kepalangmerahan, (2) remaja berperan penting dalam pengembangan kegiatan kepalangmerahan, (3) remaja berperan penting dalam perencanaan, pelaksanaan kegiatan, dan proses pengambilan keputusan untuk kegiatan PMI, (4) remaja calon pemimpin Palang Merah masa depan, dan (5) remaja adalah kader relawan. Oleh karena itu, pola pembinaan “konvesional” yang berorientasi pada “rekrut-latih-lomba” sudah harus ditinggalkan dan diganti dengan pembinaan yang berorientasi pada “rekrut-latih-tri bakti” untuk menyiapkan anggota PMR menjadi calon relawan masa depan. Berdasarkan Pedoman Manajemen PMR, siklus pembinaan PMR melalui empat tahap, yakni (1) perekrutan, (2) pelatihan, (3) Tribakti, dan (4) pengakuan dan penghargaan. Keempat tahap tersebut senatiasa dipantau dan evaluasi. 1. Tahap Perekrutan Perekrutan adalah peningkatan jumlah anggota dan kelompok PMR. Melalui proses promosi, pendaftaran, dan wawancara, maka perekrutan memberitahukan remaja bahwa dengan bergabung dengan PMI, mereka dapat melakukan sesuatu yang memang mereka ingin lakukan. Nilai karakter yang digali dalam tahap ini adalah bepikir logis, kreatif menggali ide, kerja keras 2. Tahap Pelatihan Mengingat pembinaan PMR terfokus pada pembangunan karakter, maka standarisasi pelatihan PMR berpedoman pada kurikulum PMR, dengan menerapkan 7 (tujuh) materi pelatihan PMR, yaitu (1) Gerakan Kepalangmerahan, (2) Kepemimpinan, (3) Pertolongan Pertama, (4) Sanitasi dan Kesehatan, (5) Kesehatan Remaja, (6) Kesiapsiagaan Bencana, dan (7) Donor Darah. Melalui materi tersebut, nilai karakter yang digali adalah bekerja sama, peduli sesama, menjadi pendidik sebaya, memberikan dukungan, menjadi contoh perilaku hidup sehat 3. Tri Bakti PMR Ketujuh materi perlatihan PMR tersebut diharapkan dapat menguatkan karakter anggota PMR untuk melaksanakan Tri Bakti PMR. Melibatkan anggota PMR dalam berbagai kegiatan kepalangmerahan merupakan karya dan bakti nyata setelah mengikuti pelatihan, pengakuan, terhadap keberadaan dan kompetensi dalam meningkatkan kualitas anggota dan organisasi, serta memberikan jawaban atas berbagai minat bergabungnya remaja dengan PMI. Nilai karakter yang digali melalui Tri Bakti sebagai berikut: Tri Bakti PMR Nilai Karakter Meningkatkan keterampilan hidup sehat Bersih, sehat Berkarya dan berbakti di masyarakat Kepemimpinan, peduli, kreatif, kerjasama Mempererat persahabatan nasional dan internasional Bersahabat, ceria 4. Pengakuan dan penghargaan Peranan pembina PMR sangatlah penting dalam menyampaikan penghargaan dan pengakuan atas peran dan kegiatan PMR. Hal ini akan memberikan dampak yang besar dan sangat efektif. Pengakuan dan penghargaan bertujuan (1) memotivasi PMR agar tetap bersama dengan PMI, (2) ¦memberikan rasa bangga dan kesadaran akan kualitasnya bahwa meskipun masih, (3) remaja mereka dapat berperan untuk kemanusiaan, (4) meningkatkan kepercayaan diri dan komitmen, (5) meningkatkan kualitas kegiatan kepalangmerahan. Pengakuan dan penghargaan dapat diberikan dalam bentuk ucapan selamat, hadiah, sertifikat, plakat, pin uji syarat kecakapan, mengikutsertakan anggota PMR untuk pertukaran remaja dan konferensi, dan acara-acara khusus untuk penghargaan dan pengakuan anggota PMR. Nilai karakter yang digali adalah menghargai karya dan prestasi orang lain, demokratis Agar anggota PMR dapat memanfaatkan dan mengembangkan seluruh kecerdasan dan potensi dalam penguasaan materi, pelatih, fasilitator, dan pembina PMR menggunakan berbagai metode dan media yang memberikan kesempatan mereka untuk terlibat dalam proses sehingga tertanam karakter 1. Fun learning Proses belajar dan kegiatan menjadi aktivitas kehidupan riil yang dihayati dengan penuh kegembiraan. Itu membantu anggota PMR menikmati kegiatan dan membangun imaji tentang apa dan bagaimana seharusnya menjadi seorang anggota PMR. Contoh nilai karakter yang ditanamkan adalah berpikir logis, rasa percaya diri, mandiri 2. Learning by doing Untuk menjadi lebih paham dan mengerti, anggota PMR hanya perlu difasilitasi dalam mempelajari sesuatu. Biarkan mereka mengamati, mengalami, merasakan, dan memahami berbagai macam perbedaan. Biarkan mereka yang merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi hasil kerja mereka. Contoh nilai karakter yang ditanamkan adalah, berpikir logis, kreatif, kerja keras. 3. Spider web Setiap materi dan kegiatan saling terkait. Ketika belajar siaga banjir, maka akan belajar juga tentang Pertolongan Pertama pada luka atau sakit akibat banjir (diare, demam, akibat terbantur benda keras, luka lecet), sanitasi dan air bersih, belajar bagaimana menerapkan 7 Prinsip dan kepemimpinan jika memberikan pertolongan, cara-cara menyelenggarakan aksi donor darah untuk korban banjir, belajar kandungan gizi yang tepat jika akan menyumbang bahan makanan, bagaimana menyelenggarakan acara-acara untuk menghibur remaja dan anak korban bencana. Contoh nilai karakter yang ditanamkan adalah berpikir logis, peduli sesama, gotong royong

PERAGAAN PERLOMBAAN PEMBUATAN TANDU DARURAT

PERAGAAN PERLOMBAAN PEMBUATAN TANDU DARURAT BENTUK PERLOMBAAN Praktek membuat Tandu Darurat dengan memperhatikan kekuatan, kebenaran,kecepatan, dan kerapihan. TATA CARA PELAKSANAAN Ketentuan Umum a. Setiap Regu berjumlah 2 orang, putra-putra/putri-putri. b. Berpakaian PDL/PSL (Pakaian Dinas Lapangan/Pakaian Seragam Lapangan) PMR Sekolah asal/berpakaian rapi dan sopan. c. Setiap regu membawa perl engkapan yang telah ditentukan. Perlengkapan a. 2 (dua) gulung tali tandu, ukuran @13 meter, diameter 5 mm. b. 2 (dua) buah Bambu panjang, ukuran @ 2,25 meter / 225 cm. c. 2 (dua) buah Bambu penyangga, ukuran @ 0,60 meter / 60 cm. d. 3 (tiga) buah Mitela/Pembalut segitiga. e. Pembalut Gulung 2 (dua) buah. Peragaan Lomba a. Tempat perlombaan ditentukan oleh Juri. b. Peserta hanya satu kali melakukan peragaan. c. Peralatan tandu darurat dibawa setiap Regu ke lokasi lomba. d. Juri memeriksa peralatan lomba peserta. e. Jika alat tidak sesuai yang diminta,diberi waktu 3 menit untuk mencari gantinya, jika tetap tidak ada, peserta tetap boleh melakukan peragaan dengan konsekuensi pengurangan nilai 10%. f. Pengukuran panjang bambu boleh lebih, tetapi tidak boleh kurang. g. Perlombaan dimulai pada posisi berdiri dan memegang peralatan tandu darurat, setelah aba-aba dari Juri, “Bersedia..siap..mulai..” maka waktu perlombaan dimulai. h. Waktu pelaksanaan tandu darurat dihentikan ketika semua peserta dalam kondisi berdiri dan menyatakan “Tandu Siap”. i. Sistem penjurian terbuka (peserta melihat dan menandatangani blangko nilai).